Kau dan aku
bersebelahan oleh jarak yang lalu tampak samar oleh tawa. Kau dan aku
dipisahkan dengan jarak tapi kemudian tampak sama oleh kisah. Kau dan aku
bersapa oleh hati yang menaruh harap pada hati yang berbeda tapi lalu disatukan
oleh rasa yang tak mudah dimengerti. Kau dan aku adalah sama yang berbeda dalam
harap…
Minggu, 17 Juni 2012
La det Swinge
Seperti
kapas yang diterbangkan angin
Mengayun lembut
pada sela-sela debu
Mengikuti irama
hembusan
Ringan…
tanpa beban
Menembus segala
batas dimensi
Yang pada
kapas adalah substansi tanpa isi
Menggorogoti
segala jejak terjang
Yang dari
kapas adalah tempatnya datang
Begitulah adanya,
terbang, terayun,
Menggantung
pada sayup-sayup waktu dan tertegun
Lama ia
terbang dan melayang
Dan lalu
seperti sebongkah kapas
Dia akan
pulang…
Denting…
Denting ini
mengingatkanku pada sebuah malam yang lelap. Di sana ada kamu yang mengukur
lelah lewat mimpi yang membelah imajinasi, luas… Membentang hingga rindu yang
bersebelahan dengan hati yang selalu berharap. Dan di sini masih ada denting
yang membubuhkan setiap salam yang kau kirim dan tawa yang kusuguhkan. Kepada denting
aku berkisah…
Selasa, 29 Mei 2012
Mei 31 Hari
Di sana…
Di belahan bumi yang lain
Pada waktu yang tidak jauh
berbeda dengan tempatku menatap bulan
Ada musim semi yang indah
Yang padanya bermekaran
bunga-bunga
Yang padanya ada angin yang
bercerita
Yang padanya ada malam yang
berkisah
Yang padanya pula ada pagi yang
bertelaah
Di sana…
Pada bulan yang sama
Ada kisah-kisah yang merajuk
indah
Membentangkan ribuan ingatan
lalu
Pada kisah perkenalan
Pada hati yang bertaut
Pada desir ombak
Pada gemercik hujan
Pada ragu yang merajuk
Juga pada cinta yang malu-malu
Di sana…
Ada Mei yang indah
Kutitip pada sebongkah puisi
Dan lalu entah mampu atau tidak
kau terjemahkan
Semua adalah bahasa syukur
Semua adalah ucapan terima
kasih
Untukmu, seorang raja pada Mei
Pada 31 hari penuh makna
Aku selalu mengagumimu…
Minggu, 27 Mei 2012
#12
Itu malam
yang gelap di Bulan Mei
Kau datang
sambil tersenyum manis
Mengajakku
makan malam berdua
Dan aku
semakin menikmatinya
Kau
suguhkan makan malam bersama kisahmu hari itu
Aku
tergelak meledak
Dan kau
bilang kau suka
Tentu aku
juga
Di akhir
kau sajikan penutup paling dramatis
Sebuah
hadiah kecil
Hadiah
pertama darimu
Tasbih...
Sabtu, 26 Mei 2012
Yang Tak Bisa Kuungkapkan Pada Mama
Ma…Sungguh
aku tak pernah bermaksud menjadi yang paling benar. Karena seberapa banyakpun
yang aku tahu, aku tetap anakmu dan kau pastilah lebih berpengalaman dariku.
Hanya saja sebagai anakmu aku merasa ada yang salah dengan hubungan kita. Aku
tahu kau begitu menyayangiku, memanjakan aku dengan begitu banyak perhatian dan
pengertian. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika aku mulai tumbuh menjadi
gadis yang remaja, aku mulai sadar ada yang salah diantara kita.
Ma…Sungguh, tak bisa kuungkapkan betapa aku
sangat bangga padamu, betapa aku sangat mencintaimu dan aku bersyukur
memilikimu di dunia ini. Seakan tak ada lagi yang lebih aku butuhkan selain
dirimu dan suamimu yang adalah papaku. Tapi Ma, tidakkah kau merasa ada yang
salah di antara kita. Mungkin karena aku telah menjadi dewasa, aku telah dapat
bersikap selayaknya wanita yang baik sama sepertimu, hanya saja semakin aku
mentorerir diriku untuk menaruh rasa hormat setinggi-tingginya padamu, aku
selalu merasa ada yang salah. Bukan aku tidak ingin menghormatimu sebagai
mamamku, tapi tidakkah ini terlalu berlebihan Ma. Bahkan aku harus membatasi
ruang gerakku agar kau menganggap aku menghormatimu layaknya seorang anak
kepada orangtuanya. Aku mesti membungkam mulutku pada sesuatu yang ingin
kuperjuangkan untuk diriku agar kau bisa menganggap aku hormat kepadamu.
Ma…Sungguh, aku tak bermaksud mengajarimu
bagaimana seharusnya menjadi seorang mama dan teman bagi anak-anaknya karena
aku belum sampai pada tahap itu. Tapi, selama ini aku telah banyak belajar pada
keganjilan yang aku rasakan ada di antara kita tapi tidak pernah aku lihat pada
orang-orang di sekitarku. Aku hanya ingin Mama bisa membuka sudut pandang Mama
tentang apa yang selama ini Mama anggap benar dan salah karena semuanya tidak
lagi sama Ma. Aku telah menjadi wanita dewasa yang butuh lebih dari sekedar
Mama. Aku bukan lagi seorang anak kecil yang hanya bisa duduk manis di
sampingmu dan melakukan apa yang kau anggap benar karena aku tidak tahu
apa-apa. Aku telah berubah, dan aku ingin Mama melihatku sebagai seorang yang
dewasa…
Jarak
Kamu yang bernama jarak
Sebegitu lancangnya kau membolak
balikkan aku
Kau satukan lalu kau pisahkan
seenakmu
Dan kau tahu???
Disetiap bagian yang terpisah
olehmu
Ada rindu yang lalu kosong tak
bertuan
Dan kau bertahta manis di sana
Kamu yang kusebut jarak
Apa hakmu melakukan ini
Membuatku tersudut pada waktu
yang merangkak pelan
Melahirkan imajinasi yang
berkedok harapan
Dan aku seakan terperangkap di
dalamnya
Berputar dan bermain pada
substansi yang kosong
Kamu yang kupanggil jarak
Aku lelah menjadi temanmu
Bermain denganmu hanya akan
menyamarkan hatiku
Memendarkan cahaya yang pada
awalnya adalah sinar
Menggetarkan segala
ketidakstabilan dalam tubuhku
Padahal pada dasarnya mampu
kuredam dengan baik
Kau jarak…
Telah menumbuhkan segala luka
yang tak pernah kubuka
Menguapkan segala cemas yang
selama ini telah kuhempas
Dan cinta yang telah lama
kutata dengan rapi
Kini hilang entah ke mana
Sungguh tega kau jarak…
Langganan:
Postingan (Atom)


