Pagi itu,di saat sebagian orang masih menikmati bersembunyi dari godaan hawa yang menusuk hingga lapisan ketujuh kulit, kupilih beridiri di depan sebuah hamparan yang sudah sangat lama kurindukan. Membiarkan kibasan angin menerpa sekujur tubuhku hingga merinding segala bulu kuduk. Mataku lekat memandang mahakarya yang luar biasa indah. Lalu kucoba berjalan mendekat,menyentuh bentuknya yang tak seragam seperti ratna mutu manikam pada sebuah peti harta karun. Sangat indah... Bulu kudukkku bergidik seketika permukaan kulit menyentuh dingin. Hanya butuh beberapa detik untuk bisa menyesuaikan diri karena sejatinya sentuhan ini telah lama dirindukan oleh kulit-kulitku. Ombakombak kecil yang menghampiriku kalem dan malu-malu seperti terapi untuk jiwa yang lama tak tersentuh oleh kelembutan. Kelembutan alami yang hanya bisa disajikan oleh keindahan Tuhan.
Pagi itu,segala keintiman alam yang mungkin bagi sebagian orang terlampau tersier atau bahkan hanya lamat-lamat, telah aku nikmati sepenuhnya seperti sebuah penghambaan kecil untuk keagungan. Angin yang mengecup mesra, melumatkan hangat ke seluruh aliran darah,sentuhan riak-riak ombak menggetarkan raga dari sebuah kerinduan panjang,dekapan langit biru yang sedikit merona membangkitkan gairang cinta yang lama telah tidur. Segalanya adalah sajian laut padaku, sajian biru untuk hijau, sajian cinta untuk cinta. Segalanya adalah proses yang telah lama tak pernah kunikmati, Making Love, Mencintai Laut, ML...
Sabtu, 31 Maret 2012
Selasa, 27 Maret 2012
Masak
Aku senang memasak…
Memasak dikala aku membayangkan ada kamu yang telah lapar
Duduk sambil memperhatikan kelincahanku
Atau tersenyum disaat aku mengeluh pada peluh
Aku suka memasak…
Memamerkan kebisaanku yang baru
Dan kau akan bertanya ini dan itu
Atau mengerutkan kening pada hidanganku
Tapi lalu kau berdecak mengaku
Aku selalu ingin memasak
Memberi salam pada garam
Memberi senyum pada bawang
Memberi sapa pada lada
Dan selalu memberi hidangan untukmu
Sebuah Elegi Tentangmu...
Kamu…
Adakah langit temaram memberi tanda
Adalah rasa yang entah sejak kapan datang
Ataukah gelisah yang selalu menyapa
Memberi aku sebuah jawaban
Aku sedang bermain rasa
Kamu…
Adalah isyarat pagi yang disimpan malam
Adalah sapaan pelangi di ujung hujan
Ataukah tanda bintang pada malam
Memberi aku sebuah jawaban
Aku lalu memendam rasa
Kamu…
Hitammu adalah malam yang lelap
Putihmu adalah sentuhan kabut di pagi sejuk
Dan adalah hijauku
Seperti daun pada setetes embun
Kau adalah warna dan aku rona
Kamu…
Lalu datang
Kala terang
Lalu tinggal
Kala terjegal
Lalu terlempar
Kala berputar
Lalu kamu di kala aku
Selasa, 14 Februari 2012
HUJAN DAN PESTA
Sudah lama hujan tak menyapaku di tempat ini. Masih sama, hanya saja tempat ini sudah jauh berbeda. Tiba-tiba ingatanku terlempar jauh ke tahun 2002, 10 tahun yang lalu… Hujan yang nyaris sama saat pulang sekolah. Aku berdiri mematung di depan gerbang memandangi langit, berharap hujan berhenti bermain-main. Lama… hampir semua telah pergi. Ada yang memakai payung atau memutuskan ikut meramaikna pesta hujan. Aku masih terdiam. Dinginpun telah menusuk hingga tulang. Tiba-tiba kurasakan ada yang berjalan mendekat, berdiri tepat di sampingku. Wah…Dia…aku berkata dalam hati. Dan dia tersenyum, pasti untukku. Aku balas dengan senyum yang berusaha kubuat indah. “ Pulang?” tanyanya. Aku jawab malu-malu, “ Tunggu hujan reda.” Dia kemudian membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu. Mantel hujan. Lalu dia berikan untukku. Ah hatiku berdesir… Aku sering melihatnya menggunakan mantel ini saat naik sepeda di waktu hujan. Lalu dengan ragu kulirik sepeda yang menjadi satu-satunya yang terparkir di parkiran sepeda. Dia kembali berkata, “ Tidak keberatan berbagi mantel sambil jalan kakikan?” Aku mengangguk sambil tersenyum. Hari itu selalu kuingat, hari pertama kalinya aku menyukai hujan, hari aku menikmati pesta hujan, pesta kita.
Toraja_100212 10.02 pm
Senin, 30 Januari 2012
Sesuatu > Air Mata
Sesuatu > Air Mata
Jika perpisahan adalah mutlak.......
Biarkan kuselip sesuatu di dalamnya
Sesuatu yang disebut senyum
Sesuatu yang disebut kenangan indah
Sesuatu yang disebut bahagia
Sesuatu yang disebut harapan
Sesuatu yang disebut kita
Bila perpisahan masih semenyakitkan ini.......
Biarkan kuselip setetes air mata di antaranya
Air mata karena aku sedih
Air mata karena aku sayang
Air mata karena aku kehilangan
Air mata karena aku masih ingin
Air mata karena kita
Untuk seorang sahabat yang sangat baik hati yang telah menemukan kehidupannya yang baru. Terima kasih selama ini telah menemaniku menemukan yang kuinginkan. Terima kasih telah hadir sebagai orang yang selalu mengerti. Terima kasih telah menempatkanku pada sebuah posisi tertinggi. SAHABAT. Will miss u so much....
Jika perpisahan adalah mutlak.......
Biarkan kuselip sesuatu di dalamnya
Sesuatu yang disebut senyum
Sesuatu yang disebut kenangan indah
Sesuatu yang disebut bahagia
Sesuatu yang disebut harapan
Sesuatu yang disebut kita
Bila perpisahan masih semenyakitkan ini.......
Biarkan kuselip setetes air mata di antaranya
Air mata karena aku sedih
Air mata karena aku sayang
Air mata karena aku kehilangan
Air mata karena aku masih ingin
Air mata karena kita
Untuk seorang sahabat yang sangat baik hati yang telah menemukan kehidupannya yang baru. Terima kasih selama ini telah menemaniku menemukan yang kuinginkan. Terima kasih telah hadir sebagai orang yang selalu mengerti. Terima kasih telah menempatkanku pada sebuah posisi tertinggi. SAHABAT. Will miss u so much....
Sepasang
Hari ini aku melihat....Melingkar di sepasang jari. Bukan muda mudi, bukan pasangan muda, bukan juga pengantin baru. Tapi menurutku sangat indah. Meski sangat jelas telah termakan usia.
Lalu karena tak tahan, sambil pura-pura melihat jam tangan aku lirik sang pemilik, sang suami, yang ada di samping kiriku. Matanya terus memandangi istrinya yang juga sang pemilik. Lembut....teduh....penuh cinta. Indah....Sang istri yang terus di awasi dengan sepasang mata tua sesekali membalas pandangan suaminya lalu tersenyum.
Sepasang yang melingkar di jari mereka, aku suka.... Sepasang mata yang terus awas, aku ingin.... Sepasang suami istri yang termakan usia, aku kagum.... Suatu saat aku juga.... ^_^
Lalu karena tak tahan, sambil pura-pura melihat jam tangan aku lirik sang pemilik, sang suami, yang ada di samping kiriku. Matanya terus memandangi istrinya yang juga sang pemilik. Lembut....teduh....penuh cinta. Indah....Sang istri yang terus di awasi dengan sepasang mata tua sesekali membalas pandangan suaminya lalu tersenyum.
Sepasang yang melingkar di jari mereka, aku suka.... Sepasang mata yang terus awas, aku ingin.... Sepasang suami istri yang termakan usia, aku kagum.... Suatu saat aku juga.... ^_^
Kamis, 26 Januari 2012
Nenek....
Di suatu pagi yang nampaknya sama saja dengan hari-hari sebelumnya, aku berjalan menikmati sajian Tuhan yang indah. Semuanya sama, tidak ada yang istimewa. Sampai mataku mendapati sebuah senyum lucu dan menggemaskan. Makhluk itu mungil, penuh ketulusan tentu saja. Duduk di pangkuan seseorang yang jauh...jauh lebih tua darinya. Aku pasti akan memanggilnya nenek jika kusapa dia. Aku tersenyum pada si makhluk kecil dan sang nenek kemudian melanjutkan berjalan. Dan pagi itu, tidak lagi menjadi pagi yang biasa. Senyum bahagia sang adik kecil mengingatkanku beberapa tahun silam ketika, dia, orang yang sangat aku cintai masih bisa memelukku, membelai rambutku dengan kasih sayang dan membuatkan sarapan yang selalu aku sukai. Tidak akan ada yang bisa menandingi rasanya. Lalu aku sadar, lidahku sudah terlalu kaku menyebut kata itu. Sudah sangat lama ketika terakhir kali kata itu keluar dari mulutku. Bahkan aku sempat lupa kalau dulu dia adalah satu-satunya teman yang bisa aku bagi apapun dengannya. Dia yang paling tahu, paling mengerti....
Aku masih mendapati diriku berjalan. Tapi kini tidak mampu lagi menikmati di sekelilingku. Di kepalaku, dihatiku hanya ada satu rasa, RINDU. Tiba-tiba ada yang menetes dari ujung mataku. Aku baru ingat, ini kali pertama aku menangis semenjak kepergiannya. Kutarik napas dalam-dalam dan kubisikkan satu kata dengan bibir bergetar....NENEK....Semoga kau mendengarnya.....
Aku masih mendapati diriku berjalan. Tapi kini tidak mampu lagi menikmati di sekelilingku. Di kepalaku, dihatiku hanya ada satu rasa, RINDU. Tiba-tiba ada yang menetes dari ujung mataku. Aku baru ingat, ini kali pertama aku menangis semenjak kepergiannya. Kutarik napas dalam-dalam dan kubisikkan satu kata dengan bibir bergetar....NENEK....Semoga kau mendengarnya.....
Langganan:
Postingan (Atom)





