Laman

Jumat, 20 Desember 2013

Ibu, Aku Ingin Pulang



Ibu…sepertinya aku telah sampai pada klimaks. Titik di saat aku tidak lagi bisa mengatasi kesendiarianku, kesepianku. Waktu di mana aku benar-benar sudah tidak mampu memanipulasi keadaan agar aku terlihat kuat dan tegar.

Ibu…bolehkah aku menangis sebentar saja. Sebab tidak ada teman paling mengerti selain kesedihan itu sendiri. Jika tangis itu datang mungkin aku bisa sedikit lega. Sebab Ibu pernah bilang tidak ada yang salah dengan menangis jika itu akan membuatmu kuat lagi.

Ibu…aku lelah. Membayangkan kau ada di sini lalu memelukku membuatku semakin lelah. Sebab aku telah lupa rasanya, otakku bekerja semakin keras untuk mengingatnya.

Ibu…aku ingin pulang!!!

Ada Apa ?



Ada apa ?
Mengapa hari ini begitu sendu ?
Mengapa perasaan kesepian kembali terasa menyedihkan ?
Mengapa rasanya ingin tidur saja dan bermimpi ?

Ada apa ?
Ke mana perginya semangat itu ?
Ke mana keberanian itu singgah ?
Taukah ia ke mana harus pulang ?
Ke mana arah hatiku, ia harus segera datang.

Ada apa ?
Rasanya ingin menangis tapi tak bisa
Rasanya ingin mengeluh tapi lidah keluh
Rasanya aku mati rasa

Ada apa?
Hari ini sendu
Tak ada semangat
Lalu ingin menangis

Kamis, 19 Desember 2013

Menunggu Pelangi



Kali ini dia datang
Bukan untuk menyapaku
Tapi untuk mengatakan
Berhentilah, dia telah memilih pelanginya “
Lalu aku, terpaku memandang hujan
Mungkin setelah ini aku juga akan menikmati pelangiku

Minggu, 08 Desember 2013

Aku dan Desember

Desember…
Apa yang special darimu selain hari itu
Aku ingin mengabaikannya
Tapi jika kulakukan, lalu siapa yang lagi yang akan mengenangnya

Desember…
Harusnya kamu jadi bulan yang biasa
Andaikan aku terbiasa memperlakukanmu biasa
Sayangnya kamu memaksa jadi istimewa
Aku tidak pernah berdaya

Desember…
Kemarin kamu istimewa tepat di hari itu
Ada sebagian dari mereka yang mengingatnya, menjadikannya indah bagiku
Membuatku berharap yang sama di tahunini  tapi tentu tidak mungkin
Hingga aku semakin benci kamu datang
Mengingatkan bahwa kamu Desember, dan aku sama-sama kesepian

Lihat Aku



Aku selalu ingin jadi signifikan. Ambisi yang entah bermula dari apa dan berakhir kapan. Sejak dulu, sejak aku mulai bisa memikirkan hal-hal yang bisa mengantarku ke sana. Ambisi… mungkin juga. Aku hanya ingin keberadaanku diakui. Mata tertuju padaku lalu melihat aku sebagai aku yang utuh.

Terlupakan



Tidak mungkin memaksa seseorang terus mengingatmu
Tidak mungkin memaksa seseorang jangan melupakanmu
Sebab itu adalah otonomi hatinya
Mungkin menyakitkan
Tapi pada akhirnya setiap manusia yang terlahir biasa-biasa saja akan terlupakan
Ingin terkenang?
Jadilah signifikan
Tapi tentu butuh tenaga yang tidak biasa
Waktu yang sangat panjang
Juga pengorbanan yang tidak sedikit
Maka jika tidak mampu lalu memilih hidup biasa-biasa saja
Persiapkanlah hatimu
Sebab dilupakan, terabaikan itu sungguh menyakitkan