Laman

Kamis, 29 Agustus 2013

Menikmatimu

Hingga saat ini aku masih menikmatinya. Menunggu sapaanmu pertama kali, perbincangan berjalan singkat dengan kau yang hanya berkata “oh” atau “iya” juga “tidak” dan aku yang seperti anak kecil mendapat permen begitu bahagianya lalu bercerita panjang lebar tanpa pernah kulihat kau menikmati ceritaku atau tidak. Sesekali kuhela dengan pertanyaan yang lagi-lagi kau jawab dengan jawaban satu katamu. Beruntung jika aku mendapatkan bonus sebuah senyum atau gerutuhan kecilmu. Satu-satunya tanda bahwa aku tidak berbincang dengan diriku sendiri.
Hingga saat ini aku juga masih menikmatinya. Memandangmu yang selalu asyik sendiri dengan duniamu. Menyanyikan lagu-lagu yang entah milik siapa lalu sesekali kau memandangiku mengajakku ikut menikmatinya tapi aku balas dengan mengerutkan kening. Aku lebih memilih menikmatimu saja. Melihat betapa berbinarnya matamu saat itu, melihat betapa mahirnya kau memetik senar-senar yang tak kumengerti. Yang kutahu hanyalah senar itu ada enam, lalu ketebalannya tidak ada yang sama. Kadang kau menekan beberapa dengan formasi jari sedemikian rupa dan keluarlah bunyi yang merdu.
Hingga saat ini akupun masih terus menikmatinya. Melihatmu yang hanya duduk. Menatap kosong ke jalan. Entah apa yang sedang kau pikirkan. Dari tempatku memperhatikanmu, aku bisa melihat asap rokok yang kau mainkan sekenanya, lalu jemarimu yang memainkan batang rokok itu. Sungguh mahir kau. Kau tahu kapan ia mesti kau hisap, kapan itu berhenti, lalu kapan abu yang bersisa di ujung-ujungnya mesti kau jentikkan dengan jarimu kemudian berjatuhan di tanah, beberapa mengenai celana jinsmu yang tak kau hiraukan sama sekali. Lalu yang tersisa hanya api-api kecil berwarna merah di ujung rokokmu.

Hingga saat ini aku masih akan menikmatinya. Menungguimu saat kau diam, tak ada yang ingin kau bicarakan. Menungguimu saat kau mulai bercerita sesuatu yang menarik bagimu. Menungguimu yang lalu kembali diam entah sedang memikirkan apa. Lalu tiba-tiba kau akan memandangku dan berkata “Aku lapar.” 

Aku Menunggu Pertanyaanmu

            Maafkan aku jika aku selalu ingin tahu apa kabarmu. Menyenangkankah hidupmu hari ini ? Apa yang seharian ini kau kerjakan ? Dan jam berapa kau akan tidur malam ini? Bahkan kadang-kadang aku lancang, ingin tahu apa yang kau mimpikan, siapa yang kau mimpikan. Mungkin bagimu aku konyol, tapi telah kuhabiskan hampir setiap hari hanya untuk memikirkan hal-hal itu saja. Lalu ketika kukatakan mungkin aku telah jatuh cinta, aku yakin kau akan tertawa. Kita sepasang manusia yang terlahir berbeda, berbeda jenis, berbeda karakter dan berbeda pemahaman. Tapi entah mengapa aku merasa benar-benar mengenalmu sebagai aku yang lain. Mungkin kau akan tertawa, ketika kukatakan sepertinya aku benar-benar jatuh cinta.
            Dimensi kita jelas berbeda. Aku yang hanya selalu duduk di sini, memperhatikanmu, mendengarkanmu jika kau berbicara lalu menyimpannya dalam hati. Ada pula kau, yang terbang ke sana ke mari, menikmati berbagai jenis makhluk Tuhan yang kau sebut indah padahal mereka adalah jenisku lalu pulang kepadaku ketika lelah bertualang. Menceritakan sedikit kisahmu dan sebagian kau biarkan untuk kau nikmati sendiri. Kemudian aku, akan berusaha memasuki hatimu, membaca apa yang tidak kau ceritakan, lewat senyummu, lewat tatap matamu juga senandung halusmu. Aku yakin kau akan tertawa, tapi kali ini aku benar-benar jatuh cinta.

            Pernahkah kau sadar, sudah berapa juta kali aku menanyakan bagaimana perasaanmu hari ini, tertambat pada siapa lagi ia, lalu apakah kau benar-benar ingin berhenti pada hati yang menjadi kisahmu saat itu ? Dan apakah kau juga sadar, ada lebih dari 94.608.000 detik yang kita lalui bersama tapi tidak pernah ada tercatat detik di mana kau menanyakan bagaimana perasaanku, siapa yang sedang aku cintai ? Ah, mungkin sebaiknya tidak pernah ada pertanyaan itu, sebab jika kau bertanya aku yakin kau akan tertawa atas jawabanku.

Rabu, 14 Agustus 2013

Agustus



Agustus…
Apa yang bisa kuingat darimu ???
Mungkin cuma satu
Bahwa ada satu hari yang selalu jadi bahan hafalanku dulu saat sekolah
Satu hari yang lalu jadi begitu meriah
Upacara bendera, marching band dan acara-acara kesenian
Hari kemerdekaan katanya
Tapi entahlah
Bahkan kamipun belum bisa merdeka dari pikiran-pikiran sendiri
Biarlah Agustus
Setidaknya kau beruntung berkat hari itu
Kau jadi bulan istimewa

Udara Yang Menjadi Teman



Aku belum suka udara di sini
Semuanya membisiku tentang kesunyian
Tapi mungkin karena kami belum berteman

Dan aku sangat rindu udara di sana
Semuanya membisiku tentang tawa dan persahabatan
Tapi mungkin karena kami telah berteman sejak lama

Selamat Malam Angin Malam



Selamat malam angin malam yang ada di sana
Kita tidak hanya menikmati udara yang berbeda
Tapi juga telah berada pada waktu yang tak sama
Mungkin sekarang kau telah pulas
Tapi aku di sini masih bersusah payah mengumpulkan segala lelap yang tak juga hinggap

Selamat malam angin malam yang ada di sana
Bagaimana rupa langit malam ini di sana ???
Di sini bulan malu-malu, bersembunyi di balik awan yang tak lagi biru tapi gelap
Semoga di sanabulan tersenyum indah

Selamat malam angin malam yang ada di sana
Selamat beristirahat juga
Mimpilah tentangku
Agar kita bisa bertemu

Judul Puisi Ini Dia



Puisi…
Hantarkanlah rasa ini pada yang aku tulis dalam setiap hurufmu
Aku tahu kau mengerti
Dia adalah isi, adalah diksi, juga sisi dalam barismu, puisi
Dia adalah judul yang sengaja tak kuucap tapi kau mengerti

Tulisan Pertama Bulan Ini



Lihatlah….
Kesibukan apa yang telah mebuatku begitu lama mengabaikanmu
Lihatlah…
Sudah berapa lama kau kosong, tak menyentuhmu
Lihatlah…
Bahkan telah berjalan empat belas hari lebih kita tak bertemu
Ah… maafkanlah aku
Ini aku tulis sebagai salam pertemuan lagi
Aku rindu padamu