Laman

Jumat, 17 Mei 2013

Kuasa Yang Besar Atas Yang Kecil

Semut-semut kecil berjejalan rapi di dinding-dinding rapuh
Cukup kuat untuk tempatnya berjalan
Bahkan seribu atau dua ribu sekalipun
Namun sekali kutekan dengan ujung jariku
Runtuhlah, lalu berjatuhanlah semut-semut itu
Maka kulipat tangan dan mengamati saja
Meski aku kuasa

Debu

Ketika debu menjejali penciumanku
Ah aku lalu sadar, sudah semestinya
Aku berpijak di tanah

Apa Kabar Ayah

Daddy how are you today ???
Sehat dan bahagialah selalu
Daddy how are you today ???

Rabu, 08 Mei 2013

Mengapa oh Mengapa (Tanda Tanya)

Ingin sekali kukatakan begini "tidak bisakah manusia berpikir tidak melulu persoalan nafsu dan pemenuhan kebutuhan atas nafsu ???" Mengapa ??? Karena ketika semua dilakukan atas dasar itu, maka apa yang terjadi dengan tanggung jawab. Mengenyampingkan tanggung jawab sungguh hal yang tercela apalagi melimpahkan tanggung jawab kepada mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita. Mengapa setiap aku makan di kantin kampus selalu ada anak-anak di bawah umur menghampiri mejaku dan meminta uang ??? Lalu ketika kutanya apakah dia sekolah, maka dia akan menggeleng lemah. Memang tidak semua yang menggeleng, tapi mengapa mereka meminta-minta ??? Itu pertanyaan. Lalu saat aku berjalan-jalan di mall, ketika berada di parkiran mengapa selalu ada anak-anak yang meminta-minta hingga tengah malam ??? Ketika kutanya mengapa tidak pulang dan beristirhat, mereka akan bilang harus dapat uang malam ini jika tidak ingin dapat pukulan. Memang tidak semua yang begitu, tapi mengapa mereka meminta-minta ??? Itu pertanyaan. Ketika aku berhenti di lampu merah saat sedang berkendara, entah kendaraan pribadi atau kendaraan umum, mengapa selalu ada anak-anak mengulurkan tangan dengan kulit terbakar dan wajah memelas meminta-minta kepada para pengendara atau penumpang angkot ??? Ketika kutanya apakah mereka disuruh orangtua mereka, mereka mengangguk. Memang tidak semua mengangguk, tapi mengapa mereka meminta-minta ??? Itu pertanyaan. Mengapa ??? Karena manusia sekarang adalah manusia yang berpikir simple untuk hal-hal yang tidak seharunya dipikirkan simple. Mengapa ??? Karena nafsu memaksa kita untuk berpikir cepat lalu tidak lagi menghiraukan pertimbangan-pertimbangan yang penting sebelum bertindak. Mengapa ??? Karena esensi pernikahan telah banyak bergeser.

Pikir Pikir Dulu....

Pagi ini setidaknya sebuah kejadian membuat aku semakin berpikir jika pernikahan bukan melulu persoalan pemenuhan atas kebutuhan nafsu agar bisa halal dalam konteks negara maupun agama. Lebih dari itu, pernikahan adalah pondasi awal sebuah negara membangun dirinya menjadi tangguh dan kuat. Dari apa ??? Tentu dari generasi baru yang akan lahir dari sebuah pernikahan. Sebelum menikah, pikirkanlah mampukah kamu menghasilkan generasi terbaik, setidaknya generasi yang mampu bertahan dan mempertahankan hidupnya dengan bekal pengetahuan dan pendidikan yang diberikan orang tuanya. Ya bekal yang banyak adalah hal mutlak yang mesti diberikan orangtua kepada anaknya. Setidaknya jika hal itu telah mampu dilakukan, maka menikahlah. Tapi, jika untuk dirimu sendiri kau masih harus berjuang sekuat tenaga maka singkirkanlah keinginan untuk menikah. Karena jika masih kau paksakan, maka selamanya kau akan bertanggung jawab atas kebobrokan generasimu, negaramu. Menikah itu perlu, hanya bagi mereka yang membutuhkan dan mampu bertanggung jawab. Kehidupan setelah pernikahan itu berat, maka persiapkan dirimu dengan baik jika dalam daftar keinginanmu ada point untuk menikah...

Rabu, 01 Mei 2013

Pernikahan, Antara Realitis dan Idealis

Sejatinya segala yang ada di bumi ini bergerak menuju sebuah keidealan tapi pada kenyataannya tidak ada satupun yang bisa mencapai titik ideal tersebut selama proses kehidupan ini berjalan. Lalu kapan ideal itu benar-benar ada ? Jawabannya, ketika kita mati karena segala sesuatu di bumi ini ketika mencapai titik idealnya tidak akan berjalan lagi.

OK then, berbicara tentang sebuah pernikahan, setiap pasangan yang menikah tentulah mendambakan pernikahan yang ideal. Lalu aku mesti bilang apa ? Mungkin aku mesti bilang “ mari bermimpi.“ Ideal itu hanya ada dalam pikiran, ketika ingin menuangkannya pada kehidupan nyata, maka itu tidak lagi ideal, itu namanya realita. Ideal dan realita tentu dua hal yang jauh berbeda. Well, yang mau aku bilang adalah pernikahan yang ideal itu tidak akan pernah ada. Berkenalan, jatuh cinta, berpacaran, menikah dan bahagia, itu yang sering ada dalam cerita-cerita dongeng, Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty dan lain-lain. Tapi pernah tidak kita berpikir mengapa happy ending yang selama ini menjadi parameter sebuah keidealan pernikahan seperti dongeng-dongeng itu hanya berhenti di sebuah pesta pernikahn yang meriah, semua orang yang menyaksikan bahagia, kissing on the balcony and then ceritanya berhenti. Hei, lalu realitanya apakah semuanya berhenti sampai di situ. Apa yang terjadi setelah pernikahan ? Mungkinkah ketika cerita-cerita dongeng itu berlanjut tidak akan ada penghianatan, perkelahian, bahkan perceraian. Who knows, no one can’t give a guarantee. Itu sebabnya semua cerita itu berhenti pada sebuah pesta karena tidak pernah ada yang berani meneruskan cerita setelah pernikahan. Mengapa ? Karena realitanya tidak ada pernikahan yang benar-benar indah.

Aku pernah membaca sebuah buku dan akan kukutip sebuah kalimat yang membuatku mengangguk hingga leherku terasa pegal. Ini dia “ Pernikahan itu memang perlu. Perlunya bagi mereka yang membutuhkan. “ Di negara kita, pernikahan menjadi sesuatu yang akan menentukan nilaimu sebagai seorang manusia terutama wanita. Wanita yang menikah diusia “semestinya” akan punya nilai baik di mata masyarakat lalu yang menikah diusia “matang” tentu akan begitu banyak pertanyaan mengunderestimate yang lalu akan menekan kehidupan mereka dan apa kabarnya yang tidak menikah, lajang hingga akhir hayat ? Bersiaplah dipandang sebelah mata. Entah mencemooh atau belas kasihan. Ironis memang, tapi itu realita. Maka, hampir semua wanita di negara ini memimpikan menikah tepat waktu. Menikah saat melewati batas “wajar” dalam ukuran masyarakat akan membuat mereka stress, depresi dan menjadi tidak percaya diri.  Kasihan bukan ? Tentu saja. kita terjebak pada parameter ideal yang kita buat sendiri. Menyiksa ? Tentu saja, bagi mereka yang tidak memenuhi paramter dan menganggap diri tidak lagi ideal. Sekali lagi, ironissss....

Lalu entah mengapa di negara ini pernikahan menjadi sebuah keharusan. Padahal tidak ada alasan logis yang membuat pernikahan itu kelihatan menjadi sesuatu yang harus benar-benar diperjuangkan selain pemenuhan kebutuhan terhadap nafsu. Mmmm dalam agama yang aku percaya, pernikahan adalah sebuah ibadah. Satu-satunya alasan yang membuat aku berfikir untuk menikah suatu saat nanti. Di luar dari itu, tidak pernah ada yang bisa menjelaskan mengapa pernikahan itu penting. Pernikahan mewajibkan seorang wanita memberikan otoritas penuh terhadap laki-laki, pernikahan membuat wanita terjebak pada rutinitas kehidupan yang memaksanya berperan multi, pernikahan bahkan mengekang kebebasan-kebebasan kodratik yang dimiliki seorang wanita. Mengutip kalimat dari buku yang sama yang pernah saya baca “ berkomitmen itu memang penting, tapi bentuk sebuah komitmen tidak melulu berwujud pernikahan. Banyak bentuk komitmen lain selain itu.” Membuatku mengangguk lebih bersemangat daripada sebelumnya. Aku setuju. Aku bukanlah orang yang kontra pernikahan, tapi sekali lagi tidak ada pernikahan yang ideal. Yang berniat menikah, harusnlah berfikir realistis. Tidak ada pernikahan yang benar-benar indah. Happy Ending itu milik dongeng dan cerita-cerita kita ketika masih anak-anak.

Resep Ibu

Itu ajaib luar biasa
Dari tangannya semua tersulap menjadi istimewa
Si ibu brokoli, si abang bandeng juga teman-temannya
Setiap hari ada di meja
Saat lapar pastilah aku lahap
Saat tidak lapar tiba-tiba jadi lapar
Karena di situ ada taburan bumbu ajaib rahasia
Kutanya pada ibu biar aku juga bisa
Kata ibu itu bumbunya bernama cinta
Nanti kudapat ketika aku telah seperti dia
Tunggu peri waktu menghampiri saja