Laman

Rabu, 08 Mei 2013

Pikir Pikir Dulu....

Pagi ini setidaknya sebuah kejadian membuat aku semakin berpikir jika pernikahan bukan melulu persoalan pemenuhan atas kebutuhan nafsu agar bisa halal dalam konteks negara maupun agama. Lebih dari itu, pernikahan adalah pondasi awal sebuah negara membangun dirinya menjadi tangguh dan kuat. Dari apa ??? Tentu dari generasi baru yang akan lahir dari sebuah pernikahan. Sebelum menikah, pikirkanlah mampukah kamu menghasilkan generasi terbaik, setidaknya generasi yang mampu bertahan dan mempertahankan hidupnya dengan bekal pengetahuan dan pendidikan yang diberikan orang tuanya. Ya bekal yang banyak adalah hal mutlak yang mesti diberikan orangtua kepada anaknya. Setidaknya jika hal itu telah mampu dilakukan, maka menikahlah. Tapi, jika untuk dirimu sendiri kau masih harus berjuang sekuat tenaga maka singkirkanlah keinginan untuk menikah. Karena jika masih kau paksakan, maka selamanya kau akan bertanggung jawab atas kebobrokan generasimu, negaramu. Menikah itu perlu, hanya bagi mereka yang membutuhkan dan mampu bertanggung jawab. Kehidupan setelah pernikahan itu berat, maka persiapkan dirimu dengan baik jika dalam daftar keinginanmu ada point untuk menikah...

Rabu, 01 Mei 2013

Pernikahan, Antara Realitis dan Idealis

Sejatinya segala yang ada di bumi ini bergerak menuju sebuah keidealan tapi pada kenyataannya tidak ada satupun yang bisa mencapai titik ideal tersebut selama proses kehidupan ini berjalan. Lalu kapan ideal itu benar-benar ada ? Jawabannya, ketika kita mati karena segala sesuatu di bumi ini ketika mencapai titik idealnya tidak akan berjalan lagi.

OK then, berbicara tentang sebuah pernikahan, setiap pasangan yang menikah tentulah mendambakan pernikahan yang ideal. Lalu aku mesti bilang apa ? Mungkin aku mesti bilang “ mari bermimpi.“ Ideal itu hanya ada dalam pikiran, ketika ingin menuangkannya pada kehidupan nyata, maka itu tidak lagi ideal, itu namanya realita. Ideal dan realita tentu dua hal yang jauh berbeda. Well, yang mau aku bilang adalah pernikahan yang ideal itu tidak akan pernah ada. Berkenalan, jatuh cinta, berpacaran, menikah dan bahagia, itu yang sering ada dalam cerita-cerita dongeng, Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty dan lain-lain. Tapi pernah tidak kita berpikir mengapa happy ending yang selama ini menjadi parameter sebuah keidealan pernikahan seperti dongeng-dongeng itu hanya berhenti di sebuah pesta pernikahn yang meriah, semua orang yang menyaksikan bahagia, kissing on the balcony and then ceritanya berhenti. Hei, lalu realitanya apakah semuanya berhenti sampai di situ. Apa yang terjadi setelah pernikahan ? Mungkinkah ketika cerita-cerita dongeng itu berlanjut tidak akan ada penghianatan, perkelahian, bahkan perceraian. Who knows, no one can’t give a guarantee. Itu sebabnya semua cerita itu berhenti pada sebuah pesta karena tidak pernah ada yang berani meneruskan cerita setelah pernikahan. Mengapa ? Karena realitanya tidak ada pernikahan yang benar-benar indah.

Aku pernah membaca sebuah buku dan akan kukutip sebuah kalimat yang membuatku mengangguk hingga leherku terasa pegal. Ini dia “ Pernikahan itu memang perlu. Perlunya bagi mereka yang membutuhkan. “ Di negara kita, pernikahan menjadi sesuatu yang akan menentukan nilaimu sebagai seorang manusia terutama wanita. Wanita yang menikah diusia “semestinya” akan punya nilai baik di mata masyarakat lalu yang menikah diusia “matang” tentu akan begitu banyak pertanyaan mengunderestimate yang lalu akan menekan kehidupan mereka dan apa kabarnya yang tidak menikah, lajang hingga akhir hayat ? Bersiaplah dipandang sebelah mata. Entah mencemooh atau belas kasihan. Ironis memang, tapi itu realita. Maka, hampir semua wanita di negara ini memimpikan menikah tepat waktu. Menikah saat melewati batas “wajar” dalam ukuran masyarakat akan membuat mereka stress, depresi dan menjadi tidak percaya diri.  Kasihan bukan ? Tentu saja. kita terjebak pada parameter ideal yang kita buat sendiri. Menyiksa ? Tentu saja, bagi mereka yang tidak memenuhi paramter dan menganggap diri tidak lagi ideal. Sekali lagi, ironissss....

Lalu entah mengapa di negara ini pernikahan menjadi sebuah keharusan. Padahal tidak ada alasan logis yang membuat pernikahan itu kelihatan menjadi sesuatu yang harus benar-benar diperjuangkan selain pemenuhan kebutuhan terhadap nafsu. Mmmm dalam agama yang aku percaya, pernikahan adalah sebuah ibadah. Satu-satunya alasan yang membuat aku berfikir untuk menikah suatu saat nanti. Di luar dari itu, tidak pernah ada yang bisa menjelaskan mengapa pernikahan itu penting. Pernikahan mewajibkan seorang wanita memberikan otoritas penuh terhadap laki-laki, pernikahan membuat wanita terjebak pada rutinitas kehidupan yang memaksanya berperan multi, pernikahan bahkan mengekang kebebasan-kebebasan kodratik yang dimiliki seorang wanita. Mengutip kalimat dari buku yang sama yang pernah saya baca “ berkomitmen itu memang penting, tapi bentuk sebuah komitmen tidak melulu berwujud pernikahan. Banyak bentuk komitmen lain selain itu.” Membuatku mengangguk lebih bersemangat daripada sebelumnya. Aku setuju. Aku bukanlah orang yang kontra pernikahan, tapi sekali lagi tidak ada pernikahan yang ideal. Yang berniat menikah, harusnlah berfikir realistis. Tidak ada pernikahan yang benar-benar indah. Happy Ending itu milik dongeng dan cerita-cerita kita ketika masih anak-anak.

Resep Ibu

Itu ajaib luar biasa
Dari tangannya semua tersulap menjadi istimewa
Si ibu brokoli, si abang bandeng juga teman-temannya
Setiap hari ada di meja
Saat lapar pastilah aku lahap
Saat tidak lapar tiba-tiba jadi lapar
Karena di situ ada taburan bumbu ajaib rahasia
Kutanya pada ibu biar aku juga bisa
Kata ibu itu bumbunya bernama cinta
Nanti kudapat ketika aku telah seperti dia
Tunggu peri waktu menghampiri saja

Sabtu, 27 April 2013

Rindumu Yang Tiba-Tiba Menjadi Rinduku

Malam ini lucu sekali. biar kubagi di sni saja. Di sana, aku dikira ngeles. Jadi biarkanlah begitu. Semoga mereka diampuni karena salah berprasangka,hahaha...

Jadi begini, sehari ini aku bbman dengan seorang sahabat baikku. Dia bilang kalau hari ini dia begitu rindu padaku. Menyuruhku mengunjunginya secepatnya. Sayangnya dia berada di kota yang jauh di sana dan aku tentu saja tidak punya keberanian beprgian terlalu jauh sendirian. Lalu mulailah kami bercerita banyak hal. Rindunya padaku yang mengharuskan aku melunasinya, rindunya pada teman-temanku yang lain yang sudah begitu lama tidak bertemu juga rindunya pada sang suami yang tinggal jauh darinya karena urusan pekerjaan.

Lalu malam ini tiba-tiba aku teringat padanya. Kucoba menuangkan segala macam rindunya yang tidak tersampaikan pada yang dirindukan lewat twit twit sejenis puisi. Dan wouuuwww tidak pernah kusangka aku terjerat fitnah, tapi tidak mengapa. Aku sahabatmu, dan aku sungguh ingin menulis rindumu lewat kata. Biar begitu saja kurasa. Mereka tidak tahu, mereka berhak menilai apa saja. Mari merenda rindu kawan, semoga rindumu cepat berbalas ya....

Ini rindumu yang telah kubentuk lewat kata :
~ Apa salahnya ? Tentu tidak ada. Ketika aku menyimpan kamu untuk berlama-lama, karena itu selera. Karena aku suka.
~ Ketika malam, ketika kusimpan kenangan yang karam, ketika rindu seketika bungkam, ketika kamu gali yang memiliki segala salam.
~ Satu hari, dua hari, tiga hari, lalu berhari-hari aku tertatih dalam perih. Rindu yang memuakkan namun kunikmati sekali.
~ Dulu aku melihatmu seperti rumput-rumput yang tumbuh di taman, biasa saja. Sekarang aku merindukanmu seperti pelangi setelah hujan, luar biasa.
~ Teguklah segala rindu yang kutuangkan pada secangkir kenangan. Semoga bisa membasuh dahaga ragumu yang tertahan.
~ Ayo ayo mari merenda rindu. Milikmu atau bukan, rasa itu tetap istimewa untuk kau seduh dan nikmati saat itu masih hangat.
Semua ini untukmu. Maaf aku salah satu yang membuat rindumu tidak berbalas. Hari ini giliranmu rindu, mungkin besok giliranku.

Kamis, 11 April 2013

Manusiawi Berduniawi


Ini dunia memang panggung
Panggung sandiwara juga politik
Yang tidak bersandiwara akan terluka
Yang tak berpolitik akan kalah
Ini dunia juga rimba
Hukum seleksi tentulah berlaku
Yang kuat tetap bertahan
Yang lemah akan binasa
Inilah dunia
Itu pelangi, hujan, embun pagi, deru ombak, kabut tipis
Cuma setitik keindahan dari kemelaratan yang ada
Hanya segenggam keindahan dari kepahitan yang nyata
Lalu ada manusia yang terhambakan
Terhambakan nafsu juga kehormatan
Di sini saja, berpijak pada bumi
Karena ini tempat segala nafsu memanjakanmu
Juga segala hormat yang kau sembah
Ini dunia bagi nafsu manusiawi yang berduniawi

Senin, 08 April 2013

Rindu (2)


Merindukanmu mungkin akan menjadi hukuman bagiku yang selama ini mengabaikanmu. Kini aku tahu rasanya rindu, yang mungkin dulu adalah giliranmu, namun sekarang menjadi sepenuhnya bagianku. Ah... semoga belum terlambat, aku merindukanmu...