Laman

Sabtu, 09 Maret 2013

Sebentuk Ucapan Terima Kasih Untukmu

Hei kamu...
Iyya kamu yang pernah berjanji mencintaiku selamanya
Terima kasih
Janji itu telah sampai padaku
Hingga saat terakhir kita bertemu
Aku masih lihat janji itu di matamu

Hei kamu...
Iyya kamu yang lalu selalu tersenyum saat melihatku
Terima kasih
Senyum itu masih aku ingat hingga kini
Masih aku lihat ketika memejam
Masih seperti itu hingga kini, menghangatkanku selalu

Hei kamu...
Iyya kamu yang selalu memilih duduk di sampingku
Terima kasih
Aku selalu aman berada di sampingmu
Tak peduli itu telah gelap atau mencekam
Aku tidak pernah takut
Karena kau menggenggamku, bukan tanganku tapi seluruh ragaku
Lalu mengantarku pulang

Hei kamu...
Iyya kamu yang malam itu menghadiahiku sebuah tawa
Terima kasih
Tawa itu masih ada, masih tersisa sedikit
Akan kupakai jika suatu saat aku bersedih

Hei kamu...
Iyya kamu yang cintanya selalu kuabaikan
Terima kasih
Telah mencintaiku, memberiku senyum, menjagaku dan menghadiahi aku tawa
Pulanglah nanti
Dan akan kupenuhi janjiku padamu...


Bukan

Aku menangis bukan karena cinta yang menyakitiku
Bukan...bukan pula karena ini terlalu rumit
Bukan... bukan juga karena kau
Bukan...bukan itu...

Hari ini aku terjatuh
Perasaan yang tidak pernah kubayangkan
Menelanjangiku hingga aku tak mampu menatapmu
Bukan...bukan salahmu

Cinta ini...
Aku benci, sungguh benci
Mengapa bukan kau orangnya
Mengapa tidak lagi kau cintaku
Air mata ini adalah kekalahanku
Kemenyerahanku karena berhenti mencintaimu
Kemalanganku yang  tak lagi memilihmu untuk kucintai
Bukan...bukan lagi kau

Ah...kekasih...
Aku begitu sakit karena bukan lagi kamu yang kucintai
Meski aku masih ingin
Memandangmu penuh hasrat cinta
Duduk di sampingmu lalu mencintaimu selamanya
Tapi bukan...bukan lagi dirimu

Sabtu, 02 Maret 2013

Catatan Pagi Ini (copy dari My Sweet Yelly Diary)


Untuk kebanyakan orang, cinta-cinta masa kecil seperti cinta zaman SMP itu cinta main-main, cinta monyet katanya. Nggak tahu kenapa disebut cinta monyet. Mungkin karena monyet itu lucu, bisa dijadiin hiburan seperti si Sarimin yang sering mangkal di depan lorong rumahku. Jadi cinta-cinta seperti itu dianggap lucu-lucuan aja, hiburan. Iya sih benar juga, tapi benar juga kalau ada dari cerita-cerita itu yang ternyata nggak begitu. Mereka mungkin orang-orang yang beruntung, bisa merasakan cinta sejujur itu. Bahkan bisa bertahan lama di hati mereka.
Suatu hari, sekitar tahun 2009, di awal Ramadhan, aku nggak sengaja bertemu teman lama di facebook. Teman SMP, teman SD juga sih. Malu, tapi biarlah kubuka di sini biar Sarimin tahu nggak semua cinta itu miliknya (ehhhh). Kami pernah naksir-naksiran. Aku nggak tahu kapan tepatnya, yang pasti saat SMP dia gencar melakukan PDKT, sering cari perhatian dan banyak lagi. Aku suka, tapi tetap saja malu, masih kecil sih kita, hehehe. Dan persis sama seperti musim, cerita cinta itupun berakhir begitu saja tanpa ada pernyataan dan tentu saja meninggalkan pertanyaan untukku, mungkin untuknya juga dan ternyata iya, setelah semua terbuka saat kami bertemu beberapa tahun lalu. Dia banyak bercerita bahwa aku memberi banyak perubahan dalam hidupnya. Baginya, pikirnya juga, aku anak yang pintar ( sayangnya dia tidak tahu kalau aku cuma pura-pura pintar, hahaha). Dia bilang, setelah keluarganya pindah ke Balikpapan, dia belajar sangat keras biar bisa juara kelas, bisa pintar seperti aku katanya, yang lagi-lagi sangat kusesalkan karena aku tidak begitu. Dan akhirnya, dia bisa menjadi 10 besar siswa teladan di kotanya yang menurut pengakuannya itu karena aku (so proud of you dude, for me too,hihihi). Dia bilang, selama SMA dia beberapa kali pacaran dan hampir semua dari mereka, menurutnya mirip denganku. Katanya, dia memang mencari cewek yang tipenya mirip aku sebagai syarat mutlak,hahaha. Dan saat dia bilang seperti itu aku bisa memastikan kau akan melihat wajahku yang bersemu merah dan tersipu malu, jelas malu-maluin. Bahkan suatu hari ketika dia disuruh menceritakan sebuah pengalaman pribadi di depan kelasnya, dia bercerita tentang aku, di depan teman-temannya, gurunya dan di depan seorang teman yang sekarang menjadi istrinya. Dia juga pernah bilang, satu-satunya perempuan yang dicemburui oleh gitarnya (dia sih bilang gitarnya itu,pacarnya, aneh!!!) adalah aku. Entah aku mesti senang atau merasa terhina. Dicemburui kok ya sama gitar, hahhhh.... Ngomong-ngomong soal istrinya, kami punya kemiripan. Sama-sama punya hidung mungil minimalis dan body agak bohay ( baca gemuk ala-ala boncel). Terakhir kali kami berbincang waktu itu, dia membuatku terharu saat dia berterima kasih padaku karena telah merubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Betapa tidak akan bisa kau bayangkan rasanya di saat kau sibuk dengan pikiran dan dirimu sendiri, di belahan bumi yang lain ada orang yang berubah karena mencintaimu tanpa kau ketahui. Luar biasa ( seka air mata dengan tissue). Itulah cinta monyet, yang ada pula yang menjadi cinta paling jujur bagi mereka yang beruntung.
Dan ngomong-ngomong tentang cinta paling jujur, aku punya satu lagi kisah yang sebenarnya adalah alasan aku menulis tentang ini. Cerita tentang aku tadi semata-mata biar aku terlihat sedikit keren dan kece, hahaha.
Hari ini, aku BBMan dengan seorang teman, teman lama tapi masih tetap berteman dan akan terus begitu, teman SMP tapi sekarang tidak karena kami sudah SMA #ehhhh... Dulu, waktu kami SMP, dia dinaksiri, ditaksiri, dinaksir, ditaksir ( coret aja kata yang nggak sesuai EYD) oleh teman kelasku, teman kelasnya juga karena kami sekelas. Mereka nggak pernah pacaran, itu aku si Bunga (panggil saja begitu, nama samaran). Katanya, Bunga emang nggak punya perasaan sama Budi (itu loh yang ibunya sering ke pasar di buku-buku anak SD) sampai sekarang. Meskipun aku merasa Budi (ini nama samaran loh) punya perasaan yang dalam (entahlah, aku juga heran kok aku yang merasa), Bungapun pasti merasa begitu, tapi ternyata Bunga hanya menganggapnya teman malah katanya sekarang udah dianggap sodara (nah loh Budi). Kau tahu, apa yang membuatku sangat terharu pagi ini? Bunga memBroadcast sebuah tulisan dari Budi :
“ Barangkali harapan ini hanya semacam doa, yang memeluk kehampaan sebagai kamu. Tapi, biarlah. Sesekali waktu perlu mengajariku cara tercepat meninggalkan masa silam, meski tak yakin kau akan ‘hilang’ begitu saja di masa depanku. Kala itu malam mencekik, kira-kira pukul 20.00 WITA, selasa 18 September 2012, hape lamaku berdering. Aku sementara sibuk melahap makanan teman serumah. ‘Nelfon miko’ (ini kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kira-kira artinya ‘Silahkan nelfon kalau kamu mau nelfon). Tak menunggu lama, nasi itu langsung ludes. Sesuatu yang benar-benar aku tunggu dari kamu Bunga. Sesaat sementara nelfon. ‘Halo...halo...’ katanya. ‘Siapa tuh Bunga?’ tanyaku. ‘Masa nd tau’ kata Bunga. ‘Itu ibuku.’ Mataku tiba-tiba tertutup. Jantung rinduku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. ‘Oh ya...apa benar itu ibu Bunga’ kataku dalam hati. Singkat cerita, aku dan ibu Bunga berkenalan, beliau asyik dan gaul di ajak ngobrol... Lagi-lagi kamu sosok perempuan yang tak pernah hilang dari bayang-bayang semuku J.M.R. ( nah kalau itu nama lengkap dan nama asli Bunga tapi aku singkat aja ya. Berasa seperti tersangka si Bunga. Maaf sayang, ini demi privasimu. Mana tau kalau nanti kamu terkenal karena ini, hehehe). Sekitar pukul 15.00 WITA, kucoba merangkul pulpen namun tiada selembarpun kertas yang terlihat oleh mataku ini, ya udah lewat hape lah aku bercerita. Lalu hari ini, aku ingin meluapkan rindu di matamu, tapi kenyataan hidup jelas-jelas mengatakan agar aku melupakan rindu itu. Tak ada balasan apapun dari kamu Bunga, smspun nggak dibalas. Hampir tiap hari aku menyapamu dengan hati yang sudah terbakar ini, namun kamu memang sosok perempuan yang membuat aku penasaran untuk menggapai mimpi bersamamu. Pertengahan Oktober, aku hitung sudah enam kali sms aku nggak kebales. Aku takkan menyerah, hidup itu indah seperti matamu yang tak bisa aku tatap lama... Site PT. Moriss, 15 Oktober 2012...”
Itulah kisah sebuah cinta paling jujur. Aku senang mengatakan begitu, tak ada istilah yang lebih tepat menurutku. Cinta pertama? Mmmm, entahlah...tidak semua perasaan dapat diterjemahkan sebagai cinta. Berbahagialah, pun beruntunglah mereka termasuk dua lelaki tersebut di atas yang sekarang telah dewasa pernah merasakan perasaan itu, atau mungkin juga masih. Bahkan akupun, yang telah beberapa kali jatuh cinta, belum pernah merasakan cinta sejujur itu. Mungkin juga sudah terlambat. Karena untuk seorang dewasa, tidak akan ada perasaan tanpa syarat, semua semata-mata karena kebutuhan dan kemampuan berpikir yang dibumbui berbagai pertimbangan, itu alami, manusiawi, dewasawi juga. Bukankah anak kecil itu mnerjemahkan semua yang mereka rasakan secara jujur dan murni, tanpa syarat sama seperti yang mereka rasakan. Perasaan masa kecil, mmmm prapuber,hehehe. Perasaan itu hanya muncul tanpa sebab, berada di sana, di dalam hati, betah di sana dan sesekali dikunjungi sekedar untuk diceritakan kepada orang-orang yang tepat agar mereka tahu tidak semua cinta yang dirasakan anak kecil itu cinta monyet, cinta Si Sarimin yang sering mangkal di depan lorong rumahku,hehehe...

Daya Pikat Perempuan yang Baru Bangun

 Pasti sudah sering mendengar istilah “perempuan itu paling cantik kalau baru bangun tidur” ??? Kemaren-kemaren sih aku nggak pernah percaya sama istilah itu karena kadang-kadang setelah bangun tidur aku sempatin ngaca dan nggak ada yang cantik dari tampang yang aku lihat. Rambut acak-acakan, mata belekan dan wajah kusut. Tapi semua itu mendadak berubah dan aku tiba-tiba percaya hundred percent istilah itu kemaren. Begini ceritanya…
    Kemaren pagi, rumah tiba-tiba diserang sekumpulan air dari sungai. Orang rumah sih sering menyebut penyerangan itu dengan banjir, entah dari mana istilah itu mereka dapatkan. Dan karena nggak ada persiapan apa-apa (makanan maksudnya) jadilah aku yang baru saja bangun ditugaskan untuk pergi berbelanja di sebuah supermarket bersama seorang teman tetangga kamar kos. Karena buru-buru takut air semakin tinggi, untuk pertama kalinya aku keluar rumah tanpa mandi, dandan atau ganti pakean. Hanya berbekal cuci muka dan pakean tidur, berharap tidak ada yang memperhatikanku di sana.
    Memasuki area parkir semua tampak biasa saja dan normal. Tapi tiba-tiba temanku yang saat itu memboncengku nyaris terjatuh di depan satpam yang jaga parkir pula. Pak Satpam dengan ramah tertawa dan berkata “hati-hati mbak, nggak usah buru-buru” sambil tersenyum kepada kami. Dan aku membalas senyumnya sambil berkata “iya pak, maaf…” kemudian mengambil tiket parkir dari si bapak yang masih tersenyum ramah.
    Berbelanja akhirnya berhasil dilakukan dengan baik dan tanpa tatapan mengintimidasi dari orang-orang yang ada di sana. Dengan perasaan lega aku dan temanku menuju area parkir. Kami keluar area parkir dan berhenti di depan Pak Satpam si penjaga parkir lalu aku menyodorkan tiket parkir kepada Pak Satpam. Tanpa aku duga Pak Satpam menyalami tanganku yang karena kaget buru-buru aku tarik. Tapi Pak Satpam itu lebih sigap menarik ulang tanganku dan memberiku selembar kertas yang dia lipat rapi sambil tersenyum. Aku menatapnya heran dan si bapak berkata pelan “ telepon aku ya…” sambil tersenyum aneh, dan motor kamipun meninggalkan si bapak satpam. Aku sempat bengong menatap kertas di tanganku. Pelan-pelan lalu kubuka kertas itu dan tanpa bisa kukendalikan aku tertawa. Temanku yang heran lalu menegurku. Dan aku memperlihatkan kertas yang ada di tanganku. Ini dia kertas yang diberikan si satpam…
 
   

     Dan semenjak hari itu aku percaya bahwa tampang baru bangun seorang perempuan benar-benar memikat. Hahaha… Jadi aku saranin, sebaiknya perempuan-perempuan yang ingin tampak cantik saat keluar rumah nggak usah mandi atau berdandan. Cukup dengan mencuci muka dan berpakaian seadanya kalian akan tampil sangat cantik. Trust me…

Senin, 25 Februari 2013

Antarkan Puisi Ini Untuknya

                                                                     PROLOG
Ini sebuah kisah cinta. Sebuah kisah cinta yang tidak pernah menemukan tempat pulangnya, tempatnya berhenti. Kisah cinta yang terus berjalan, mencari pelabuhannya dengan cara yang sama sekali berbeda. Jika kebanyakan kisah bersuara, maka kisah ini berkata. Lewat kata, lewat puisi yang tak pernah tersampaikan oleh sang pemilik. Aku, mungkin aku yang akan mengantarkannya. Untuk sebuah hati yang memilih diam.
                                                                      ******


                                                                      #SATU
Aku seorang mahasiswi yang mencintai sastra. Mungkin darah itu kudapatkan dari mama. Mamaku adalah seorang penulis buku yang sudah menerbitkan banyak buku. Meskipun buku yang ditulisnya adalah buku-buku nonsastra dan kebanyakan berbicara tentang keprihatinannya terhadap dunia wanita di Indonesia, aku tetap yakin kemampuanku mengolah kata yang selalu di atas rata-rata dibandingkan teman-teman seumuranku aku dapatkan dari mama.
Hubunganku dengan mama tidak pernah harmonis. Semenjak mama memutuskan berpisah dengan papa saat aku SMP, kami bukan lagi sepasang ibu dan anak yang bahagia. Aku lebih suka mengurung diri di kamar daripada menghabiskan waktu dengan mama nonton tv atau ngobrol di sela-sela kesibukannya sebagai aktifis perempuan dan penulis. Entahlah, akupun tidak pernah mengerti mengapa aku begitu menyalahkan mama karena membiarkan aku menyandang status anak broken home. Tidak juga pernah aku mencoba menanyakan kepadanya, mengapa mama berpisah dengan papa.
Papaku adalah papa yang hebat. Aku mengaguminya, sangat mengaguminya. Aku sering mendengar orang-orang bilang kalau anak perempuan akan lebih dekat dengan papanya dan itu aku. Tidak pernah ada rahasia antara aku dan papa. Dulu, kami sering menghabiskan waktu berdua di akhir pekan ketika papa tidak disibukkan dengan jadwal mengajarnya. Papaku seorang dosen. Dosen yang tentu saja hebat, sehebat perannya sebagai papa. Meskipun sekarang aku tinggal sangat jauh darinya, kami tetap berhubungan hampir setiap hari. Papa sekarang tinggal di Jerman, mengajar di sana. Beberapa tahun setelah pisah dengan mama, papa memutuskan melanjutkan studynya di Jerman dan menetap di sana.
Aku sempat ingin kuliah di Jerman, tapi ternyata aku tidak pernah tega meninggalkan mama sendiri di sini. Mungkin aku tidak benar-benar membencinya. Aku masih sangat menyayanginya. Dan aku yakin mama tahu itu. Hanya saja sekat antara kami berdua sudah terlalu kokoh dan sulit dihancurkan. Pada dasarnya aku dan mama punya watak yang sama. Keras kepala dan ego yang tinggi. Mungkin itu yang membuat aku dan mama sulit sekali menjalin komunikasi.
Oh ya, aku mahasiswa arsitektur. Aku sebenarnya ingin kuliah di fakultas sastra. Hari itu, mama menanyakan aku akan lanjut di mana dan kuutarakan niatku untuk mengambil jurusan Sastra Indonesia. Awalnya aku sangat yakin mama akan sangat senang dan mendukungku tapi di luar perkiraanku, mama menentang keinginanku habis-habisan. Kami sempat bertengkar hebat dan aku sempat minggat selama seminggu dari rumah dan tinggal di rumah temanku, Naras. Aku baru pulang ke rumah setelah papa yang tahu pertengkaran kami datang ke Indonesia dan menjemputku di rumah Naras. Lagi-lagi papa yang meluluhkan hatiku dan tidak pernah kutahu alasan mama sebenarnya. Papa hanya bilang, tidak perlu menjadi sarjana sastra untuk aku bisa terus menulis dan menciptakan karya-karyaku.
Dan benar saja apa yang papa katakan. Setelah kuliah, aku mengikuti beberapa organisasi dan kelompok-kelompok diskusi mahasiswa pencinta sastra dan puisi Indonesia. Di sana aku banyak belajar, mengenal banyak penulis-penulis hebat yang ternyata kebanyakan dari mereka bukan mahasiswa sastra. Aku telah menemukan duniaku. Tapi di luar semua itu, yang paling aku syukuri adalah aku bertemu seorang dosen sastra yang adalah dosen pembina di organisasi mahasiswa pencinta sastra kampus yang aku ikuti. Dia adalah dosen yang hebat. Yang sangat mengerti kami sebagai mahasiswa. Meskipun umurnya jauh di atas kami, tapi jiwanya jauh lebih muda dibandingkan kami. Semangatnya dalam memotifasi dan membimbing kami luar biasa besar. Hal itu membuatku berfikir, jangan-jangan dia adalah anak muda yang terjebak dalam jasad seorang Pak Dewanto Suryono yang sering kami panggil Pak De. Bertemu dengannya membuatku semakin mencintai dunia sastra.
Kami sering sekali berdiskusi mengenai sastrawan-sastrawan Indonesia, puisi atau karya-karya mereka. Menghabiskan waktu lama dengannya kadang membuatku lupa waktu. Dia adalah seorang pembimbing, teman dan motivator yang sangat baik. Idealismenya sebagai seorang dosen yang ingin melahirkan sastrawan-sastrawan tangguh membuatku semakin mengaguminya.
Kadang akupun bingung mengartikan perasaan yang kumiliki untuk Pak De. Sekedar kagumkah, atau aku mulai mencintainya. Usia kami terlampau cukup jauh. 21 tahun. Aku yang baru berumur 22 tahun dan dia adalah dosen yang berumur hampir sama dengan papa. Lebih pantas kupanggil papa. Pikiran seperti itu kadang-kadang muncul ketika aku sedang melamun, memikirkan hal-hal aneh. Tapi setiap kali pikiran itu datang, aku pasti berusaha membuangnya jauh-jauh. Tidak mungkin aku mencintai Pak De. Tentu saja itu adalah hal terkonyol yang pernah kupikirkan.
Suatu hari pernah kuceritakan hal itu pada Naras. Dan benar saja dugaanku, Naras tertawa nyaris mati karena merasa hal itu adalah hal paling tidak masuk akal.
“ Emang sih Pak De loe itu untuk ukuran dosen keren banget, ganteng tapi masa iyya loe jatuh cinta sama om om.” kata Naras sambil terus berusaha menahan tawanya.
    Aku hanya bisa memandanginya kesal dan mengutuki kebodohanku menceritakan itu pada Naras. Jangankan Naras, akupun tidak habis pikir mengapa bisa berasumsi sedemikian tidak wajarnya. Setelah kejadian itu, aku tidak lagi pernah mau membagi ceritaku tentang Pak De ke Naras. Cerita apapun yang menyangkut Pak De bahkan kenyataan bahwa di usianya yang sekarang Pak De belum pernah menikah, karena aku tahu ke mana pembicaraan kami akan berakhir.

                                                       ~TO BE CONTINUED~

































Kamis, 10 Januari 2013

Sebelas Januari


Hei kamu...
Apa kabarmu???
Sepertinya baru kemarin bertemu...
Bercerita bersamamu...

Hei ternyata telah 5 tahun mengenalmu
Tertawa dan menangis bersamamu
Belajar menjajaki pikiranmu
Juga menuntun perasaan yang mulai menyayangimu

Hei jangan terus berlari
Ayo berhenti sejenak kita bernyanyi
Biar tak sunyi tempat ini
Ksrena di sini ada banyak kisah terpatri
Ada hari yang dulu jadi saksi
Kita pernah berjanji
Ini Sebelas Januari

" Happy 111 teman2q sayang...^_^ "

Jumat, 04 Januari 2013

Bisa


#Puisi Malam
~ Sebisa waktu, membawamu datang lalu menyimpanmu dalam ingatanku
   Semua tidak lagi menjadi kuasaku
~ Aku seperti remah – remah petang yang hanya bisa berpendar
   Tak sepertimu yang megah di antara warna pelangi
~ Aku hanya butuh sebuah jendela yang bisa memberiku ruang menatap langit
   Sekedar memastikan bintang itu masih ada untukku