Entah siapa yang menulisnya di note layar laptopku. Sudah sangat lama tulisan itu terpampang di sana hanya saja aku nggak pernah nyadar. Dua hari lalu saat lagi nggak ada kerjaan dan bengong di depan layar laptop tiba – tiba mataku terpaku pada tulisan itu. Penasaran, aku baca note itu dan entahlah...aku suka. Tapi entah siapa yang menulisnya di sana. Ini isi notenya :
“ Malam, sesungguhnya, tak pernah memejam. Ia hanya diam-diam menyembunyikan luka kita dalam kelam, agar kita bisa tidur tentram...”
Terima kasih buat notenya. Siapapun kamu, aku suka note yang kamu tulis itu...
Jumat, 14 September 2012
Jumat, 31 Agustus 2012
Kau...Seperti Aku dan Perjalanan
Ada
kalanya malam menjadi terlalu gelap dan dingin
Ada
kalanya siang menjadi terlalu panjang dan melelahkan
Ada
kalanya semua menjadi terasa sulit dan menjadi tidak mungkin
Tapi
kala itu,
Aku
punya kau yang mengingatkan jika gelap adalah sahabat terbaik lelap,
dan
dingin akan membuatku menghargai sebuah kehangatan
Aku
punya kau yang mengingatkan bahwa siang yang panjang adalah celah untuk aku
terus berusaha,
dan
lelah datang sebagai alasan aku sejenak beristirahat
Aku
punya kau yang mengingatkan jika disepanjang kesulitan dan ketidakmungkinan
selalu ada kau yang menemani
Kau…seperti
aku dan perjalanan
Untuk
seorang sahabat yang kisahnya menginspirasiku. Mengingatkan bahwa cinta tidak
melulu persoalan saling memiliki. Cinta yang sebenarnya adalah cinta yang tanpa
batas dan tanpa syarat.Mencintai tanpa batas dan memberi tanpa syarat. Selamat
menikmati cinta yang hanya kalian yang bisa mengartikan…
Here they are,hehehe....
Minggu, 26 Agustus 2012
Untuk Sebuah Hati
Hati yang melepaskan,
terimalah…
Kita masih harus berjalan
Entah itu lama atau sebentar
lagi
Tak ada yang bisa menjamin
Yang kita tahu,
ini adalah perjalanan
Persinggahan tidak lagi mampu
menahan lelah
Hati yang merelakan,
ikhlaslah…
Inilah waktunya kita bertualang
Tempat yang kita anggap rumah
Ternyata bukanlah yang kita
harapkan
Yang kita ingin,
tempat yang membuat kita nyaman
Maka berjalanlah atau berlarilah jika mampu
Di sana yang belum nampak
Ada tempat melepas lelah
Ada rumah yang memberi nyaman
Di sana yang mungkin sudah
dekat atau masih jauh
Kita akan menghentikan perjalanan
Bercerita tentang petualangan
Kita adalah pejuang…
Untuk sebuah hati,
bersabarlah…
Ucapan yang Tersembunyi
Angin…
Aku bukannya tidak bahagia
Bukan pula merasa iri
Atau merasa ini tidak adil
Hanya saja perasaan ini
terlampau rumit
Meski malu kukatakan
Aku pernah menyukainya
dan kau tahu sekarang mungkin
tidak lagi
Tapi dulu pernah kumimpikan
kisah ini
Mimpi yang kusimpan bersamanya
Mimpi yang kini hampir dia
gapai
Hanya saja bukan denganku
Angin…
Aku ingin bahagia untuknya
Ingin tidak iri untuknya
Ingin merasa ini yang terbaik
Tapi perasaan ini terlampau
rumit
Aku bahkan susah tersenyum
Meski perasaan yang dulu tidak
lagi ada
Tapi mimpiku yang dahulu begitu
indah
Ah…mimpi memang seharusnya
tidak menjadi harapan…
“
Happy Wedding for You”
Happy Ied
Sampaikah segenggam, amal yang
terkumpul ?
Adakah sepotong dosa yang
terhapus ?
Mungkinkah sebait doa yang
terijabah ?
Pantaskah aku menghadapkan
kepala
meminta kemenangan itu menjadi
milikku?
Tuhan…
Kau pasti tahu seberapa
pantasnya usahaku sebulan ini kau upahi
Kau tahu seberapa tuluskah ibadah-ibadahku
sebulan ini aku jalani
Kau tahu pantaskah aku kau
kalungi medali kemenangan
Yang padanya kelak aku
banggakan
Di hari perhitunganMu yang maha
adil
Mungkinkah aku kembali fitri
???
Jumat, 03 Agustus 2012
Sebisa Waktu
Semenjak saat itu
aku tahu
Celah yang dulu
kubiarkan begitu saja
Kini telah
menganga dan tak dapat lagi kututupi
Segala bentuk yang
tak kukenali
Menumpuk menyatu
dalam satu rasa
Aku benci namun
tak dapat pergi
Aku bahagia namun
tak dapat tertawa
Aku cemas namun
tak kunjung lepas
Aku suka namun tak
bisa berkata
Mungkin memang
saatnya kubiarkan saja
Menunggu waktu
Berharap semuanya
akan kembali biasa
Tangan
Dekap aku dalam
lamat-lamat senyap
Karena lelah ini
tak kunjung redam
Bila pula tangis
ini telah pecah membuncah
Biarkan jemari itu
menghapusnya
Luka ini telah
dalam tergores
Genggam ini setitik rindu
Yang lalu membuatku tak lagi berucap
Menggelorakan cemburu yang tak lagi
kumengerti
Bawa ini pergi
Atau akupun akan binasa dalam rasa
Pedih ini telah rindu kau sapa
Langganan:
Postingan (Atom)



